Tradisi Perang Topat, Cerminan Kerukunan Umat Beragama di Lombok

Mempersatukan Perbedaan dalam Perang Perdamaian

Tradisi Perang Topat di Pulau Lombok

HOLIDAYISLOMBOK.com – Selain wisata alam yang tersebar di berbagai penjuru, di Lombok juga terdapat banyak sekali wisata budaya, diantaranya adalah Tradisi Perang Topat yang merupakan tradisi turun temurun yang mulai dilakukan sepeninggal penjajahan Bali di Lombok di masa lampau. Tradisi ini di lakukan dengan cara saling lempar dengan menggunakan ketupat antara Ummat Islam dan Ummat Hindu Lombok.

Dengan menggunakan pakaian adat khas Sasak dan Bali ribuan warga Sasak dan umat Hindu bersama-sama dengan damai merayakan upacara keagamaan yang dirayakan tiap tahun di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Tradisi Perang Topat yang diadakan di Pura terbesar di Lombok (peninggalan kerajaan Karangasem) ini merupakan pencerminan dari kerukunan umat beragama di Lombok. Prosesi Perang Topat dimulai dengan mengelilingkan sesaji berupa makanan, buah, dan sejumlah hasil bumi sebagai sarana persembahyangan dan prosesi ini didominasi masyarakat Sasak dan beberapa tokoh umat Hindu yang ada di Lombok. Sarana persembahyangan seperti kebon odek, sesaji ditempatkan didalam Pura Kemalik.

Perang Topat di Lingsar Lombok
Opening Perang Topat. Photo via lombokbaratkab.go.id

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan perang topat, bertepatan dengan gugur bunga waru atau dalam bahasa Sasaknya “roroq kembang waru” yakni menjelang tenggelamnya sinar matahari sekitar pukul 17.30. Perang topat merupakan rangkaian pelaksanaan upacara pujawali yaitu upacara sebagai ungkapan rasa syukur umat manusia yang telah diberikan keselamatan, sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta.

Perang Topat berada dalam satu rangkaian dengan Upacara Pujawali. Ia adalah bagian dari ritual tak terpisahkan dalam upacara yang bertujuan sebagai ungkapan syukur atas limpahan berkah dari sang pencipta.

“Kalau tak ada Pujawali, Perang Topat tak kan dilaksanakan karena Perang Topat satu rangkaian dengan pelaksanaan Pujawali. Prosesi ini tak bisa dipisah-pisah,” kata I Gde Mandia, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Nusa Tenggara Barat.

Di antara 365 hari dalam setahun, masyarakat Sasak memilih tanggal dan hari Purnama Bulan Ketujuh dalam Kalender Sasak, yang biasanya jatuh pada bulan November-Desember, waktu setelah panen dan sebelum masuk musim tanam, untuk pelaksanaan Pujawali. Sementara Perang Topat sendiri biasanya dilaksanakan pada sore hari, setelah salat ashar atau dalam bahasa Sasak rarak kembang waru yang berarti gugur bunga waru.

Masyarakat Lombok memiliki kepercayaan bahwa gugurnya bunga waru pada sore hari sebagai bentuk kepatuhan pada hukum alam semesta. Bunga waru memiliki keunikan, ia dianggap sebagai perlambang jam biologis. Pada pagi hari warnanya akan kuning secerah mentari, beranjak siang warna bunga akan menghangat. Berujung pada waktu sore, warnanya akan semerah jingga. Lalu gugur, jatuh ke tanah.

Tradisi Perang Topat di Lombok
Photo by Pramudya Photograph

Waktu selama 30 menit di senja hari purnama ketika gugurnya bunga waru pun menjadi waktu sakral. Pada momen terbatas itulah Perang Topat, sebagai ungkapan bersyukur secara bersama-sama, diselenggarakan. Bukan hanya pemilihan waktu, pilihan tempat diselenggarakannya Perang Topat pun memiliki makna yang mendalam yang juga tak bisa dilepaskan. Adalah Pura Lingsar lokasi penyelenggaran rangkaian Upacara Pujawali serta Perang Topat selama lebih dari 250 tahun terakhir.

Siti Sarah, seorang arkeolog dari Nusa Tenggara Barat, menceritakan bahwa Perang Topat tak bisa dipisahkan dari Taman Lingsar. Taman Lingsar mulai dibangun pada 1759, oleh Raja Ketut Karangasem dari Bali, di tahun berakhirnya kekuasaan Mataram.

Pembangunan Taman Lingsar ini bertujuan untuk menyatukan, secara batiniah, masyarakat Sasak Lombok yang menganut Islam dengan wetu telu dan warga Bali yang beragama Hindu. Wetu Telu adalah kepercayaan yang tumbuh ketika awal mula perkembangan penyebaran Islam di Lombok. Saat itu Sunan Prapen, yang merupakan keturunan dari Sunan Giri, bertugas untuk menyebarkan syiar Islam di Lombok. Namun, Sunan Prapen yang masuk dari wilayah barat hingga ke bagian utara, belum secara utuh menyebarkan ajaran Islam.

Di dalam komplek bangunan Taman Lingsar ini terdapat pura yang disebut Gaduh bagi penganut Hindu dan Kemaliq yang berarti keramat bagi penganut Wetu Telu. Kemaliq ada terlebih dahulu dan diyakini sebagai tempat moksa Datuk Sumilir, seorang pendakwah Islam di Lombok pada sekitar abad XV, setelah menancapkan tongkatnya di lokasi tersebut.

Titik lokasi menancapnya tongkat itu menyemburkan air atau yang disebut lingsar oleh masyarakat Sasak. Sebelumnya, daerah itu adalah area yang gersang, namun munculnya mata air yang tak pernah kering menjadikan daerah tersebut subur hingga sekarang.

Gaduh dan Kemaliq boleh dipakai kapan saja sesuai keperluan agama masing-masing, tetapi sekali dalam setahun diadakanlah upacara bersama, yakni Perang TopatMaka, Lingsar menjadi salah satu contoh perwujudan sinkretisme tersebut. Bangunannya yang berundak, memiliki tingkatan tertentu. Makin tinggi undakan, artinya semakin sakral. Polanya pun memusat, di mana bagian tengah lebih sakral, dan bagian luar sekelilingnya semakin profan.

Perang Topat, menjadi simbol persatuan, perdamaian dalam akulturasi budaya, yang menyatukan beragam perbedaan.

Source : kumparan.com/rina-nurjanah/perang-topat-mempersatukan-perbedaan


Awesome Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *